Selasa, 13 Oktober 2015

4. Ikramul Muslimin

Ikramul Muslimin adalah menunaikan hak sesama muslim tanpa mengharap hak kita ditunaikan, dengan berakhlak baik pada manusia ataupun makhluk lain. Sifat ikram yang terendah adalah bersabar dan tidak merepotkan orang lain. Menyusahkan orang lain dapat merusak dan diakhirat kelak akan dipertanggungjawabkan. Keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala tersimpan dalam amal shalih, kemurkaannya tersimpan dalam perbuatan maksiat, dan kewali-annya tersifat dalam sifat ikram.

Amal tidak sempurna tanpa sifat ikram, bahkan dikhawatirkan akan bangkrut kelak di akhirat. Abu Hurairah Radhiallahu anhu bertanya kepada Sahabat, 
"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?" para Sahabat menjawab "Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang atau harta kekayaan."
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, "Orang yang bangkrut dikalangan umatku, Ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa banyak amal kebaikan berupa shalat, shaum dan zakat. Namun ia juga membawa amal keburukan, ia pernah mencaci maki seseorang, menuduh orang (tanpa hak), dan pernah pula memukul sesorang. Maka diberikanlah amal-amal kebaikannya kepada orang ini dan orang itu (yang teraniaya). Jika amal kebaikannya telah habis, sedangkan hak-hak mereka belum tertunaikan, maka diambil dosa-dosa mereka (yang pernah dianiaya). Kemudian ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka." (Hr. muslim)
Ikram bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hati dan perbuatan. Ikram semua orang miskin atau kaya, pejabat atau rakyat jelata. Ikram tertinggi adalah mengajak setiap orang untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar selamat dari azabNya di dunia dan di akhirat. 

Abu Darda Radhiallahu anhu berkata yang dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwa,
"Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak yang wajib kau penuhi dan untuk dirimu sendiri ada hak yang wajib engkau tunaikan dan untuk isterimu ada hak pula yang harus engkau tunaikan, maka tunaikanlah semua hak orang lain atas dirimu."
Diantara hak-hak itu adalah:

1. Hak saudara dalam harta
Memperhatikan kebutuhan saudaranya dari kelebihan hartanya. Abdullah bin Umar Radhiallahu anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 
"Barang siapa yang selalu memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah selalu memenuhi kebutuhannya." (Hr. Bukhari - Muslim)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa memberi kelonggaran kepada seorang muslim dari kesulitan dunia, maka Allah pasti akan memberikan kelonggaran kepada dia dari kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan pada orang yang mendapat kesukaran maka Allah pasti memberikan kemudahan padanya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat; dan Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya."(Hr. Muslim)
Derajat yang paling tinggi ialah lebih mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri, dengan jalan memberikan segala yang diperlukan saudaranya sehingga membuat dia berkecukupan dan mulia kedudukannya.

2. Hak Saudara pada diri
Memberi bantuan ketika diminta atau ketika mampu, jika mereka sakit dijenguknya dan membantunya jika ia sibuk.

3. Hak saudara pada lisan
Memanggil dengan nama yang disukai, mengingatkan ketika ia lalai dan sampaikan pesan orang lain yang diberikan kepadanya. Serta mendoakannya.

4. Hak saudara dalam hati
Berbaik Sangka (Khusnudzan) dengan menyadari dan mengetahui bahwa saudaranya bukanlah orang yang maksum (suci bersih dari dosa dan kesalahan). Setia dengan pendirian Teguh menjaga persaudaraan sampai akhir hayatnya.

5. Hak saudara untuk meringankan bebannya
Tidak membebani dengan tanggung jawab yang tidak mampu ia pikul.

6. Hak saudara dalam hal mencintai yang bermanfaat dan membenci yang mudharat baginya
Membenci segala sesuatu yang membawa mudharat baginya dan berusaha untuk mencegahnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Perumpamaan seorang muslim dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling mengasihi itu adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu organ tubuh merasakan sakit maka seluruh organ tubuh merasakan sakit, sehingga tidak dapat tidur dan demam karenanya." (Hr. Muslim)
Dan juga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Tolonglah saudaramu yang berbuat aniaya dan teraniaya!" seorang sahabat bertanya "menolong yang teraniaya dapat saya pahami, tetapi bagaimana menolong yang menganiaya?" Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, "Mencegahnya dari perbuatan aniaya, itulah cara menolongnya!"
 (Hr. Bukhari)
Sifat Ikramul Muslimun akan wujud dengan mendakwahkan pentingnya sifat ikram ini, untuk bersama-sama mempraktekan akhlak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memuliakan Ulama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang mudan dan menghargai teman sebaya. Dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala agar hakikat sifat ini dapat wujud pada diri dan keluarga kita, serta kepada seluruh umat islam.

Semoga salinan ini bermanfaat bagi kita, Allahummaghfirli.

Baca Lagi..

Jumat, 04 April 2014

3. Ilmu Ma'a Dzikir

Ilmu Ma'a Dzikir

Ilmu dan dzikir adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu ibarat jalan dan dzikir adalah cahayanya. Apabila berjalan di dalam kegelapan tanpa bantuan cahaya akan tersesat. Ilmu tanpa dzikir akan sia-sia dan dzikir tanpa ilmu akan tersesat. Ilmu untuk mengetahui perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam setiap suasana dan keadaan, dan dzikir adalah menghadirkan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam setiap perintah-Nya. Sebab kadangkala seseorang menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala tanpa disertai keagunggannya.

Nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala (Asmaul Husna) disebutkan berulang-ulang dalam Al Qur'an lebih dari 2.500 kali, tetapi berapa banyak keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang hadir dalam hati? apabila kekuatan makhluk berada di dalam hati, akan menimbulkan kesombongan. Jika kekuatan Allah Subhanahu Wa Ta'ala wujud dalam hati, akan menimbulkan sifat tawadhu. Ta'lim untuk menyinari hati dan dzikir untuk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. setiap amal yang disertai dzikir akan meningkatkan kualitas amal ke derajat takwa.

Berdzikir tidak sebatas mengingat, tetapi bagaimana menggunakan seluruh anggota badan (mata, telinga, kaki dan tangan) untuk tunduk dan ikut perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dzikir kedua mata tidak melihat hal yang haram, jika melihat kebaikan ia sebarkan dan jika melihat keburukan saudaranya ia tutupi. Dzikir lisan adalah bicara yang benar, tidak ghibah dan tidak bicara sia-sia. Dzikir tangan adalah menolong orang lain dan tidak mengambil hak orang lain. Dzikirnya perut tidak diisi dengan makanan yang syubhat apalagi yang haram.

Ilmu ma'a dzikir adalah seluruh wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Ilmu berbeda dengan pengetahuan, pengetahuan bisa berubah sesuai suasana dan keadaan, tetapi ilmu tidak akan pernah berubah walaupun suasana dan keadaan berubah. pengetahuan adalah seni; seni kedokteran, seni pertanian, seni perdagangan dan sebagaimya.

Ibnu Mas'ud Radhiallahu 'Anhu berkata: 
"kalian berada pada suatu zaman, dimana nafsu tunduk kepada ilmu, dan akan tiba suatu masa nanti ilmu tunduk kepada nafsu, yaitu apa yang sesuai kehendak manusia akan dikatakan sebagai ilmu."
Abdullah bin Umar Radhiallahu 'Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: 
"Ilmu ada tiga, selain dari ketiga ilmu itu adalah tambahan, yaitu; ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat Al Qur'an yang telah jelas ketetapannya), sunnah yang tegak (hadits Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam yang tsabit dengan sanad yang shahih), dan kewajiban yang tegak (hukum-hukum yang berasal dari Al Qur'an dan hadits, berupa ijtihad, Ijma atau qiyas)." (Hr. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim ~ Kanzul Ummal)
Ilmu yang sebenarnya adalah ilmu untuk mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan bagaimana berhubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ilmu yang bukan untuk mengenal dan mengamalkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah kejahilan yang mengajak kepada kesesatan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Pada hari kiamat akan ada yang berseru, 'dimanakah orang-orang yang berakal?' lalu ada yang bertanya, 'orang-orang yang berakal manakah yang kau kehendaki?' Ia berkata, 'yaitu orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, seraya berkata, "wahai Rabb kami, Engkau tidak ciptakan ini semuanya dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka lindungilah kami dari adzab api neraka." (Hr. al Ashbahani ~ at Targghib)
Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengendalikan seluruh panca inderanya untuk menaati Allah Subhanahu wa ta'ala. Keraguan adalam amal agama menandakan iman kita tidak betul, dan dalam keaadaan demikian kebaikan tidak akan terwujud.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya." (Qs. al Isra' : 36)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ilmu itu ada dua jenis: (1) ilmu yang keluar dari dalam hati dan memberikan manfaat, (2) ilmu yang hanya ada dalam ucapan, dan ini akan dituntut Allah." (Hr. Tirmidzi)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab. Apakah kamu tidak berfikir." (Qs. al Baqarah: 44)
Maksud dan tujuan ilmu ma'a dzikir adalah untuk mengetahui, memahami dan mengamalkan seluruh perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam setiap saat dan keadaan selama 24 jam setiap hari. Apa perintah Allah Subhanahu wa ta'ala pada mulut, mata, telinga, hati, dan pikiran kita? dan perintah dalam perdagangan, pertanian, perusahaan atau kantor kita? dan perintah ketika kaya, sehat atau sakit? sebab orang alim adalah orang yang mengetahui dan mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam setiap saat dan keadaan.

Ilmu berfungsi untuk mengetahui kekurangan diri sendiri, bukan mencari-cari kekurangan orang lain,
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Qs. Ali 'Imran: 135)
Manfaat ilmu yang paling utama adalah untuk menimbulkan kemampuan melihat kebaikan orang lain. Apabila seseorang mengukur orang lain dengan ilmunya, berarti dia masih memilki sifat sombong dan ilmu yang telah diperolehnya akan sia-sia. Niatkan menuntut ilmu untuk memperbaiki amal diri sendiri, bukan untuk memperbaiki amal orang lain. Dakwahkan pentingnya ilmu sehingga orang lain akan ikut memperbaiki amal-amalnya.

Diriwayatkan dari Jabir Radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Janganlah kamu belajar ilmu untuk membanggakan diri pada ulama, dan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh dan jangan untuk memimpin majelis-majelis. Barang siapa yang berbuat demikian, maka Ia akan masuk neraka." (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Baihaqi)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dilakukan untuk memperoleh keridhaan Allah Ta'ala, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh harta benda dunia, maka ia tidak akan mencium wangi jannah pada hari kiamat." (Hr. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim)
 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Banyak orang yang memiliki pengetahuan agama, namun mereka tidak paham (tidak diberi kepahaman pada agama). Barangsiapa yang ilmunya tidak memberi manfaat kepada dirinya, maka kebodohan akan membahayakannya." (Hr. Thabrani)
Ali Radhiallahu 'anhu berkata:
"Dua orang yang membuat punggungku patah; orang berilmu yang bermaksiat dan orang bodoh yang banyak beribadah. Orang bodoh ini menipu orang dengan banyak ibadahnya sedangkan orang yang berilmu itu memperdaya mereka dengan maksiatnya."
Ilmu para sahabat Radhiallahu 'anhum telah mencapai derajat taqwa, taqwa adalah sumber ilmu.
"Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Qs. al Baqarah: 282)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan dzikir kepada para sahabat dalam setiap suasana dan keadaan. Bila ada masalah diselesaikan dengan dzikir, sehingga sahabat radhiallahu 'anhu tidak marah kepada orang-orang mencela mereka dan tidak merasa senang bila dipuji. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menuntut ilmu Allah akan memudahkan jalan baginya menuju jannah." (Hr. Muslim)
"Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada dijalan Allah sampai ia kembali." (Hr. Tirmidzi) 
"Barangsiapa menghendaki kesejahteraan di dunia, maka ia harus berilmu, barangsiapa menghendaki kesejahteraan di akhirat, maka ia harus berilmu, dan siapa yang menghendaki keduanya, maka ia harus berilmu." (Hr. Thabrani)
Seorang berilmu pasti akan mengajak Kita berpindah dari 5 hal ke 5 hal (pesan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ) :

  1. Dari keraguan kepada keyakinan
  2. dari riya kepada keikhlasan
  3. dari menuruti hawa nafsu kepada kezuhudan
  4. dari keangkuhan kepada tawadhu
  5. dan dari permusuhan kepada ketulusan persahabatan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Duduklah kalian dengan orang-orang besar (mulia), bertanyalah kepada ulama, dan bergaullah dengan para hukama (orang-orang bijaksana)." (Hr. Thabrani)
Ali Karramallahu wajhah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Ilmu merupakaan perbendaharaan kuncinya adalah bertanya, karena itu bertanyalah kalian, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian. berkenaan dengan hal ini, ada empat orang yang diberi pahala, yaitu:
orang yang bertanya
orang yang mengajarkan ilmu
orang yang mendengarkan ilmu
dan orang yang mencintai ketiga-tiganya."
(Hr. Abu Nua'im)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Banyak yang ahli fiqh tetapi tidak mengerti fiqh. barangsiapa yang ilmunya tidak bermanfaat untuk dirinya, niscaya kebodohannya akan membahayakan dirinya. Bacalah al Qur'an selagi ia mencegah dirimu, jika Ia tidak mencegah dirimu (dari segala hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala) berarti engkau tidak membacanya." (Hr. Thabrani)



(* Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi 
ta`muruna bil ma`rufi 
wa tanhauna `anil munkari 
wa tu`minuna billah.
Allahummaghfirli...

Baca Lagi..

2. Shalat Khusyu’ Wal Kudhu’

Shalat Khusyu’ Wal Kudhu’


Shalat adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Khaliqnya. Khusyu adalah kosentrasi pikiran, hatin dan perasaan serta seluruh anggota badan tawajjuh kepada Allah Subhana Wa ta’ala. Dan Kudhu adalah merendahkan diri sebagai tanda kepatuhan, tunduk terhadap keagungan Allah Subhana Wa Ta’ala.

Timbulnya perasaan diawasi oleh Allah Subhana Wa Ta’ala, merasakan keagungan-Nya, mensyukuri belas kasih-Nya, merenungi makna Al Qur’an yang sedang dibaca dan didengarkan, memahami dzikir-dzikir yang diucapkan termasuk tasbih, tahmid dan takbir. Seolah-olah sedang berhdapan langsung dengan Allah Subhana Wa Ta’ala untuk melaporkan semua amalan yang telah dan sedang dikerjakan serta menyampaikan harapan-harapan kepada-Nya atas ibadah yang dilakukan.

Khusyu ibarat antena pada pesawat televisi. Jika antenanya rusak, maka gambar dan suaranya tidak jelas. Demikian pula denga shalat yang tidak khusyu maka arah dan tujuannya tidak jelas.

فَوَ يْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ٥ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَو تِحِمْ سَا هُوْنَ ٥ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُ وْنَ ٥
Fawailul lilmusholliin 0 alladziyna hum ang sholaatihim saa huwn 0 alladziyna hum yuraaa uwn
“Maka celakalah orang-orang yang shalat 0 yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang shalatnya tidak berpengaruh baginya 0 Orang yang riya (tidak ikhlas amal ibadahnya)“ (Qs. Al Ma’un : 4-6)

Shalat kudhu shalat dengan tenang serta tidak melakukan gerakan lain selain yang diperintahkan dalam rukun dan tertib yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, pada awal waktu di masjid bagi laki-laki dan dengan berjamaah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

لَا صَلَا ةِ لِجَارِالْمَسْجِـدِاِلَّا فِى الْمَسْجِـدِ
Laa sholaati lijaril masjidi illaa fil masjid
“Tidak ada sholat bagi orang yang bertetangga dengan masjid kecuali shalat di masjid“ (Hr. Duruqhutni)

Baca Lagi..

1. Yakin Kepada Kalimat Thayyibah “laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah”


Yakin Kepada Kalimat Thayyibah “laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah”

Menafikkan seluruh kekuatan makhluk, bahwa makhluk tidak memberi manfaat dan mudharat tanpa izin Allah Subhana Wa Ta’ala. Menetapkan dan meyakini bahwa hanya Allah Subhana Wa Ta’ala yang mengurus dan mengatur semua makhluk dan segala sifat-sifatnya (rububiyyah).

Seluruh suasana dan keadaan yang telah terjadi, sedang dan akan terjadi semuanya dari Allah Subhana Wa Ta’ala. Beriman pada hari pembalasan, bahwa perjalanan ini sedang menuju akhirat, sejak lahir di dunia kita sedang berjalam ke akhirat. Orang yang paham dengan kehidupan ini, ia tidak tertarik lagi dengan dunia ini, sebab ia yakin bahwa semua yang Allah Subhana Wa Ta’ala Berikan akan dihisab. Hal itu mendorong seseorang untuk menaati seluruh perintah dengan membuktikan keimanannya dengan beramal shalih. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan menjauhi larangan-Nya tanpa terkesan oleh suasana dan keadaan. Hanya kepada Allahlah kita meminta dan memohon perlindungan, seandainya Dia tidak menjanjikan jannah atau neraka sekalipun, kita tetap menyembahnya, bahwa tiada yang patut diibadahi kecuali Allah Subhana Wa Ta’ala (uluhiyyah).

Allah Subhana Wa Ta’ala adalah al Khaliq, yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya. Allah al malik, yang menguasai seluruh makhluk-Nya. Allah ar Raziq, yang memelihara dan memenuhi seluruh kebutuhan makhluknya. Allah Subhana Wa Ta’ala memiliki Khazanah (gudang kekayaan) yang tidak terbatas. Seseorang tidak akan dimatikan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala sebelum rezekinya yang telah ditentukan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala untuknya di dunia telah habis (Asma Wa As Shifat).

Allah Subhana Wa Ta’ala yang menciptakan dan menguasai sifat-sifat pada makhluk baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.untuk dapat memperlihatkan sifa-sifatnya, makhluk butuh perintah Allah Subhana Wa ta’ala bahkan untuk matipun butuh perintah Allah. 

Baca Lagi..

Kamis, 27 Maret 2014

6 (Enam) Sifat Sahabat Radhiallahu 'Anhum


Kejayaan dan kesuksesan seluruh makhluk ada dalam kekuasaan Allah Subhana Wa Ta'ala, yang telah menjadi ketetapannya dan tidak akan berubah hingga hari kiamat. kesuksesan dan kebahagian seluruh umat manusia hanya ada dalam amal agama yang sempurna, sejauh mana ia taat kepada Allah Subhana Wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.


Para sahabat Radhiallahu 'Anhum adalah orang-orang yang telah sukses di dunia maupun di akhirat, Allah Subhana Wa Ta'ala telah ridha kepada mereka sebagai contoh masyarakat yang mengamalkan agama secara sempurna. Meskipun kehidupan mereka jauh dari sentuhan teknologi dan industri, namun mereka memperoleh kesuksesan karena telah berkorban di jalan Allah Subhana Wa Ta'ala untuk membentuk sifat yang mulia dalam diri mereka, yaitu :

1. Yakin Pada Kalimat Thayyibah لا اله الا الله محمد رسول الله
"Laa Ilaaha Illallaah(Hakikatul Iman) Muhammadur Rasuulullaah(Thariqatul Iman)"

2. Shalat Khusyu' wal Khudu' ('Alamatul Iman)

3. Ilmu ma'a Dzikir (Ma'rifatul Iman)

4. Ikaramul Muslimin (Halwatul Iman)

5. Tashihun Niyat (Maqbulul Iman)

6. Da'wah wat Tabligh (Mujahadatul Iman)

Baca Lagi..