Jumat, 04 April 2014

3. Ilmu Ma'a Dzikir

Ilmu Ma'a Dzikir

Ilmu dan dzikir adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu ibarat jalan dan dzikir adalah cahayanya. Apabila berjalan di dalam kegelapan tanpa bantuan cahaya akan tersesat. Ilmu tanpa dzikir akan sia-sia dan dzikir tanpa ilmu akan tersesat. Ilmu untuk mengetahui perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam setiap suasana dan keadaan, dan dzikir adalah menghadirkan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam setiap perintah-Nya. Sebab kadangkala seseorang menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala tanpa disertai keagunggannya.

Nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala (Asmaul Husna) disebutkan berulang-ulang dalam Al Qur'an lebih dari 2.500 kali, tetapi berapa banyak keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang hadir dalam hati? apabila kekuatan makhluk berada di dalam hati, akan menimbulkan kesombongan. Jika kekuatan Allah Subhanahu Wa Ta'ala wujud dalam hati, akan menimbulkan sifat tawadhu. Ta'lim untuk menyinari hati dan dzikir untuk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. setiap amal yang disertai dzikir akan meningkatkan kualitas amal ke derajat takwa.

Berdzikir tidak sebatas mengingat, tetapi bagaimana menggunakan seluruh anggota badan (mata, telinga, kaki dan tangan) untuk tunduk dan ikut perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dzikir kedua mata tidak melihat hal yang haram, jika melihat kebaikan ia sebarkan dan jika melihat keburukan saudaranya ia tutupi. Dzikir lisan adalah bicara yang benar, tidak ghibah dan tidak bicara sia-sia. Dzikir tangan adalah menolong orang lain dan tidak mengambil hak orang lain. Dzikirnya perut tidak diisi dengan makanan yang syubhat apalagi yang haram.

Ilmu ma'a dzikir adalah seluruh wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Ilmu berbeda dengan pengetahuan, pengetahuan bisa berubah sesuai suasana dan keadaan, tetapi ilmu tidak akan pernah berubah walaupun suasana dan keadaan berubah. pengetahuan adalah seni; seni kedokteran, seni pertanian, seni perdagangan dan sebagaimya.

Ibnu Mas'ud Radhiallahu 'Anhu berkata: 
"kalian berada pada suatu zaman, dimana nafsu tunduk kepada ilmu, dan akan tiba suatu masa nanti ilmu tunduk kepada nafsu, yaitu apa yang sesuai kehendak manusia akan dikatakan sebagai ilmu."
Abdullah bin Umar Radhiallahu 'Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: 
"Ilmu ada tiga, selain dari ketiga ilmu itu adalah tambahan, yaitu; ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat Al Qur'an yang telah jelas ketetapannya), sunnah yang tegak (hadits Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam yang tsabit dengan sanad yang shahih), dan kewajiban yang tegak (hukum-hukum yang berasal dari Al Qur'an dan hadits, berupa ijtihad, Ijma atau qiyas)." (Hr. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim ~ Kanzul Ummal)
Ilmu yang sebenarnya adalah ilmu untuk mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan bagaimana berhubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ilmu yang bukan untuk mengenal dan mengamalkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah kejahilan yang mengajak kepada kesesatan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Pada hari kiamat akan ada yang berseru, 'dimanakah orang-orang yang berakal?' lalu ada yang bertanya, 'orang-orang yang berakal manakah yang kau kehendaki?' Ia berkata, 'yaitu orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, seraya berkata, "wahai Rabb kami, Engkau tidak ciptakan ini semuanya dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka lindungilah kami dari adzab api neraka." (Hr. al Ashbahani ~ at Targghib)
Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengendalikan seluruh panca inderanya untuk menaati Allah Subhanahu wa ta'ala. Keraguan adalam amal agama menandakan iman kita tidak betul, dan dalam keaadaan demikian kebaikan tidak akan terwujud.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya." (Qs. al Isra' : 36)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ilmu itu ada dua jenis: (1) ilmu yang keluar dari dalam hati dan memberikan manfaat, (2) ilmu yang hanya ada dalam ucapan, dan ini akan dituntut Allah." (Hr. Tirmidzi)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab. Apakah kamu tidak berfikir." (Qs. al Baqarah: 44)
Maksud dan tujuan ilmu ma'a dzikir adalah untuk mengetahui, memahami dan mengamalkan seluruh perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam setiap saat dan keadaan selama 24 jam setiap hari. Apa perintah Allah Subhanahu wa ta'ala pada mulut, mata, telinga, hati, dan pikiran kita? dan perintah dalam perdagangan, pertanian, perusahaan atau kantor kita? dan perintah ketika kaya, sehat atau sakit? sebab orang alim adalah orang yang mengetahui dan mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam setiap saat dan keadaan.

Ilmu berfungsi untuk mengetahui kekurangan diri sendiri, bukan mencari-cari kekurangan orang lain,
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Qs. Ali 'Imran: 135)
Manfaat ilmu yang paling utama adalah untuk menimbulkan kemampuan melihat kebaikan orang lain. Apabila seseorang mengukur orang lain dengan ilmunya, berarti dia masih memilki sifat sombong dan ilmu yang telah diperolehnya akan sia-sia. Niatkan menuntut ilmu untuk memperbaiki amal diri sendiri, bukan untuk memperbaiki amal orang lain. Dakwahkan pentingnya ilmu sehingga orang lain akan ikut memperbaiki amal-amalnya.

Diriwayatkan dari Jabir Radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Janganlah kamu belajar ilmu untuk membanggakan diri pada ulama, dan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh dan jangan untuk memimpin majelis-majelis. Barang siapa yang berbuat demikian, maka Ia akan masuk neraka." (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Baihaqi)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dilakukan untuk memperoleh keridhaan Allah Ta'ala, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh harta benda dunia, maka ia tidak akan mencium wangi jannah pada hari kiamat." (Hr. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim)
 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Banyak orang yang memiliki pengetahuan agama, namun mereka tidak paham (tidak diberi kepahaman pada agama). Barangsiapa yang ilmunya tidak memberi manfaat kepada dirinya, maka kebodohan akan membahayakannya." (Hr. Thabrani)
Ali Radhiallahu 'anhu berkata:
"Dua orang yang membuat punggungku patah; orang berilmu yang bermaksiat dan orang bodoh yang banyak beribadah. Orang bodoh ini menipu orang dengan banyak ibadahnya sedangkan orang yang berilmu itu memperdaya mereka dengan maksiatnya."
Ilmu para sahabat Radhiallahu 'anhum telah mencapai derajat taqwa, taqwa adalah sumber ilmu.
"Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Qs. al Baqarah: 282)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan dzikir kepada para sahabat dalam setiap suasana dan keadaan. Bila ada masalah diselesaikan dengan dzikir, sehingga sahabat radhiallahu 'anhu tidak marah kepada orang-orang mencela mereka dan tidak merasa senang bila dipuji. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menuntut ilmu Allah akan memudahkan jalan baginya menuju jannah." (Hr. Muslim)
"Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada dijalan Allah sampai ia kembali." (Hr. Tirmidzi) 
"Barangsiapa menghendaki kesejahteraan di dunia, maka ia harus berilmu, barangsiapa menghendaki kesejahteraan di akhirat, maka ia harus berilmu, dan siapa yang menghendaki keduanya, maka ia harus berilmu." (Hr. Thabrani)
Seorang berilmu pasti akan mengajak Kita berpindah dari 5 hal ke 5 hal (pesan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ) :

  1. Dari keraguan kepada keyakinan
  2. dari riya kepada keikhlasan
  3. dari menuruti hawa nafsu kepada kezuhudan
  4. dari keangkuhan kepada tawadhu
  5. dan dari permusuhan kepada ketulusan persahabatan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Duduklah kalian dengan orang-orang besar (mulia), bertanyalah kepada ulama, dan bergaullah dengan para hukama (orang-orang bijaksana)." (Hr. Thabrani)
Ali Karramallahu wajhah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Ilmu merupakaan perbendaharaan kuncinya adalah bertanya, karena itu bertanyalah kalian, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian. berkenaan dengan hal ini, ada empat orang yang diberi pahala, yaitu:
orang yang bertanya
orang yang mengajarkan ilmu
orang yang mendengarkan ilmu
dan orang yang mencintai ketiga-tiganya."
(Hr. Abu Nua'im)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Banyak yang ahli fiqh tetapi tidak mengerti fiqh. barangsiapa yang ilmunya tidak bermanfaat untuk dirinya, niscaya kebodohannya akan membahayakan dirinya. Bacalah al Qur'an selagi ia mencegah dirimu, jika Ia tidak mencegah dirimu (dari segala hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala) berarti engkau tidak membacanya." (Hr. Thabrani)



(* Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi 
ta`muruna bil ma`rufi 
wa tanhauna `anil munkari 
wa tu`minuna billah.
Allahummaghfirli...